Hari itu adalah batas waktu terakhir yang di berikan oleh PJKA kepada warga untuk membongkar rumahnya. Status rumah-rumah warga dinyatakan tidak sah oleh pihak PJKA yang memiliki hak atas tanah tersebut , yang selama ini didirikan tempat tinggal oleh warga. Kondisi ini sangat di pahami oleh warga yang membangun tempat tinggal di sepanjang rel kereta api. Mereka memahami bahwa keberadaan tempat tinggal mereka adalah tidak permanen, yang artinya jika sewaktu-waktu pihak PJKA memerlukan lahan tersebut, maka warga yang membangun rumah di sepanjang rel kereta api tersebut harus meninggalkanya tanpa kompensasi apapun.
Pemanfaatan lahan milik PJKA oleh warga, sudah berlangsung cukup lama, ini terlihat dengan bermunculanya rumah-rumah baru yang di bangun di sepanjang rel kereta api. Permukiman warga seharusnya dibangun dengan jarak tertentu dari rel kereta api, hal ini guna menjamin keamanan lalulintas kereta api, maupun keselamatan warga sendiri. Tetapi tampaknya masalah ini tidak begitu diperhatikan oleh warga, yang terdesak kebutuhan akan tempat tinggal. Rumah-rumah yang mereka bangun sering kali sangat dekat letaknya dengan rel kereta api. Munculnya permukiman baru ini semakin menyulitkan pengaturan tata kelola lahan di sepanjang rel kereta api.
Sering warga tidak mengajukan ijin kepada pihak PJKA ketika mereka hendak membangun tempat tinggal tersebut. Biasanya mereka mencari tempat kemudian membangunnya, baik berupa bangunan permanen maupun bangunan semi permanen. Kadang bangunan itu tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal, tapi sering juga warga memanfaatkan bangunan itu sebagai tempat usaha , yang memang dibeberapa titik lokasi lahan di sekitar rel kereta api tersebut sangat strategis bagi kegiatan usaha.
Hal ini menunjukan bahwa ada warga yang memanfaatkan lahan PJKA tersebut untuk tujuan-tujuan komersial. Selain rumah tinggal ada juga bangunan yang dimanfaatkan sebagai pertokoan, kos-kosan, bengkel, warung makan, dan beberapa kegiatan usaha-usaha lainya yang berskala kecil. Kondisi ini jelas sangat menguntungkan warga, karena mereka tidak perlu membeli tanah dan tidak perlu membayar apapun kepada pemerintah , tetapi mereka mendapatkan hasil dari usaha yang dibangun di atas lahan milik PJKA tersebut.
Tak dipungkiri bahwa munculnya permukiman di sepanjang rel kereata api juga telah menciptakan permasalahan baru yang menimbulkan berbagai dampak, baik secara demografis, lingkungan maupun sosiologis. Faktor pertambahan penduduk yang sangat cepat juga mempengaruhi penggunaan lahan PJKA oleh warga untuk dibangun tempat tinggal. Hal ini menyebabkan terjadinya pemusatan kepadatan penduduk di sepanjang rel kereta api yang melintas di daerah perkotaan. Aspek lingkungan tampak terjadinya konversi lahan, dari yang semula lahan kosong yang berupa kebun, sawah maupun bantaran, di ubah menjadi tempat tinggal. Kondisi ini menyebabkan hilangnya daerah resapan air yang berfungsi untuk menampung air jika terjadi hujan yang sangat deras. Dan sekarang setelah lahan itu berubah menjadi bangunan, justru sistem sanitasi dan drainase sangat tidak diperhatikan. Air limbah rumah tangga sering dialirkan ke sembarang tempat. Hal inilah yang sering menyebabkan terjadinya kekumuhan di sekitar permukiman itu.
Munculnya permukinam baru tersebut juga ditandai dengan kedatangan warga baru yang entah dari mana, mereka mendirikan bangunan-bangunan di sepanjang rel kereta api. Mereka mencoba beradaptasi dengan warga asli dan kadang terjadi konflik kecil di antara mereka. Tapi seiring berjalanya waktu, secara berlahan situasi ini bisa di atasi diantara mereka sendiri, sehingga tidak berlanjut kepada masalah-masalah besar yang tidak diinginkan.
Rencana pembangunan rel kereta api ganda ini sudah jelas, tapi entah kapan akan dilaksanankan. Perintah pembongkaran tempat tinggal oleh PJKA sudah dilaksanakan warga. Dan bagi warga yang membongkar tempat tinggalnya, tentunya menjadi masalah baru bagi mereka sendiri, karena mereka harus meninggalkan tempat itu dan mencari tempat tinggal baru yang tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar, padahal uang ganti rugi yang mereka terima sangatlah sedikit dan tidak cukup untuk mencari lahan pengganti, atau membeli rumah baru. Tetapi itulah yang harus dialami oleh warga. Gencarnya pembangunan membuat mereka tercerabut dari kampung halamanya dan harus mencari kampung halaman yang baru.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dengan puji yang sebanding dengan nikmatnya dan menjamin tambahannya.
Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji sebagaimana apa yang patut bagi keluhuran Zat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarganya.
Ya Allah terimalah salat, puasa, ruku, sujud khusyuk dan pengabdian kami, sempurnakanlah juga apa yang telah kami kerjakan selama salat. Ya Allah, Tuhan semesta alam.
Ya Tuhan kami, telah kami aniaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, pasti kami termasuk orang-orang yang merugi.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampuni danrahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang yang kafir.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampuni dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang yang kafir.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlan kami rahmat-Mu, sesungguhnya Engkaulah maha pemberi karunia.
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami, dosa ke dua orang tua kami dan dosa kaum muslimin dan mukminin semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, berilah kami kebahagiaan di dunia dan di akherat, dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah setiap kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat bakti.
Maha Suci Tuhan yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka (orang-orang kafir ) katakan. Dan kesejahteraan semoga senantiasa dilimpahkan kepada para utusan Allah.
Detak jam yang terus perputar menuju ke keheningan malam, tak juga mampu memasaknya untuk memejamkan matanya. Tampak begitu berat lamunan itu menggelayut dalam pikiranya. Tatapan matanya redup, kosong tak mengartikan apapun. Raganya terpenjara oleh kegalauan batinya yang membara. Hatinya terbelenggu oleh penyesalan yang mendalam, ketidak beranian yang sulit dipahami, perasaan takut yang berlebih-lebihan, dan perasaan rendah diri yang begitu mengakrabinya. Tak ada sedikitpun keinginan untuk bangkit barang sesaat, hanya untuk mengevaluasi hidupnya.
Tak ada kepastian kapan semua itu akan berakhir. Kadang semangat kehidupan itu muncul dengan tiba-tiba dan menggebu, tetapi perlahan sirna oleh sebab yang tidak dimengerti. Kekacauan hatinya begitu mengganggu konsentrasi hidupnya. Tak terbantah ia hidup dengan segala penderitaan batinya, hanya ia yang mengetahui dan ia lah yang seharusnya mengakhiri.
Keinginannya begitu kuat untuk mengubah semuanya, segalanya yang membuat hidupnya begitu terpuruk dalam kesedihan dan ketidakpastian. Sering kali ia berharap ada setetes embun menyusup dalam relung hatinya, menyejukan dan menyegarkan, membersihkan dengan lembut bercak-bercak hitam yang menempel di sekujur hatinya. Setetes embun yang bisa memberikan semangat juang kehidupan bagi dirinya, yang bisa menjadi penghilang dahaga kebahagiaan yang selama ini tidak diperolehnya. Setetes embun yang bisa membangkitkan semangat jiwa dan raganya, yang bisa mendengar keluh kesahnya, dan yang bisa memberikan jalan keluar bagi permasalahanya. Hanya setetes ! Hatinya terus berharap.
Ia coba bertanya kepada dirinya, mengapa ia begitu ringkih dalam menjalani hidupnya. Mengapa semua kelebihannya menjadi tenggelam oleh keputusasaanya. Perjalanan hidup yang cukup lama dilaluinya, terasa sangat sebentar dijalaninya, tanpa biru, hijau, kuning dan warna-warni kehidupan lainya. Waktunya berjalan begitu hambar tanpa capaian-capaian fenomenal. Ketidak berdayaanya terlihat jelas dari sikapnya yang diam, mememndam dalam setiap apa yang dipikirkanya, tak menghiraukan suara hatinya yang terus berdegup kencang mengajaknya lari ke telaga perubahan, telaga dengan airnya yang bening dan membiru. Ia tak juga tergerak hatinya.
Kehidupan memanglah berat, tapi baginya lebih dari itu, kehidupan telah menyiksanya, memberinya banyak kegagalan dari pada keberhasilan. Memberinya kesedihan daripada kebahagiaan. Memberinya kelemahan dari pada kekuatan. Itulah yang ia rasakan selama ini.
Sepasang cicak di atas dinding kamarnya begitu menggodanya, mereka saling berkejaran, yang satu manggigit yang lainya. Mengapa cicak itu begitu bahagia dengan hidupnya, tanpa beban menjalani semuanya. Mengapa kebahagiaan itu tak ada pada dirinya. Cicak itu kembali berkejar-kejaran dan kembali saling menggigit, tampak seperti memberikan pelajaran bahwa siapa saja harus menerima takdirnya.
Malam semakin larut, ia tetap berada pada pembaringanya, tak berubah. Gerimis diluar turun dengan lembut, menyapa sang penderita kegalauan. Ia datang dengan kesejukan, dengan semilir angin, mencoba menyiram kegalauan dalam hati dan pikiranya. Kesejukan yang sempurna yang datang dari Maha Kuasa yang mendengar jeritan hambanya.
Ia terbangun, sejenak ia duduk di samping pembaringanya, mulutnya beristighfar dan mengucap hamdallah, ia bergegas mengambil air wudu, ia bentangkan sajadah putihnya dan ia kerjakan dua rakaat sholatnya dengan mata sembab penuh air mata. Dalam sujudnya ia memohon, Ya Rob berilah kekuatan dalam menjalani hidup ini.
Oleh Aku
Senin, 29 Maret 2010
Wanita itu baru saja meninggalkan toko mainan, itu adalah toko mainan ke lima yang ia kunjungi. Kelelahan dan sengatan matahari membuat peluh mengucur dari dahi dan lehernya. Ia usap dengan tisu, berkali-kali. Tak tahu itu tisu ke berapa yang ia pakai. Pencarian hari ini memang cukup melelahkan hanya untuk membahagiakan anak perempuanya yang baru berumur lima tahun. Dara begitu gadis kecil itu dipanggil.
Tampak ia seperti gadis kecil lainya, ceria dan selalu riang. Hanya kebiasaanya bermain boneka yang membuatnya berbeda dengan teman-teman seusianya. Boneka apa saja ia miliki. Dari yang besar sampai yang kecil, beraneka macam warna dan bentuk. Boneka dari film-film kartun di televisi juga ada. Kamar tidurnya yang cukup luas tampak semakin sempit dengan kehadiran boneka-boneka itu. Ada lima buah boneka di tempat tidurnya,yang selalu ia dekap menjelang tidurnya. Dua puluh lainya ada di dinding sebelah kanan, berjejer rapi ditempatkan di rak yang cukup besar, dan ada beberapa lagi yang tampak berserakan di lantai kamarnya. Itu yang ada di kamarnya, belum lagi yang ada ditempat-tempat di bagian rumah lainya. Dan yang sudah rusak, tak terhitung jumlahnya . Si kecil kolektor boneka, begitulah julukan yang tepat baginya.
Ia habiskan sebagian besar waktunya untuk bermain dengan boneka-boneka itu. Ia tampak tak mengenal kesendirian, karena boneka-boneka itulah teman-teman sejatinya. Ia jarang bergaul dengan teman-teman sebanyanya, teman sebayanya adalah boneka-boneka itu. Ia jajarkan boneka-boneka itu, ia ajari bernyanyi, tepuk tangan , sambil mulutnya bicara tanpa henti ,ia jadikan dirinya sebagai guru dan bonekanya sebagai murid-muridnya. dokter-dokteran, dan kadang bermain pasara-pasaran, dan banyak lagi peran-peran lainya yang ia mainkan bersama boneka-bonekanya.
Bonekanya yang sudah begitu banyak , tidak membuatnya berhenti untuk memilikinya lagi. Kali ini ia meminta boneka seperti yang ia lihat dalam mimpinya. Ia merengek kepada ibunya untuk membelikan boneka kutu, begitulah ia menyebutnya. Mimpi itu membuat ia begitu terkesan, ia bermain dengan teman-teman bonekanya yang hampir semuanya mirip dengan kutu, berwarna-warni, kecil-kecil, lincah lari kesana-kemari tanpa henti. Mimpi itu membuat Ia seolah-olah melupakan teman-teman bonekanya selama ini. Ibunya heran dan sekaligus bingung karena baru sekarang ia mendengar ada yang namanya boneka kutu. Ia tak habis pikir, bagaimana ia harus menemukan boneka yang diminta anaknya. Di manakah tempat yang menjual boneka kutu tersebut.
Kepergianya kali inipun hanya untuk mencari boneka seperti yang diinginkan anaknya, ia berulang kali keluar masuk toko mainan , menanyakan apakah mereka menjual boneka kutu. Merekapun hampir semuanya menggelengkan kepalanya, tanda bahwa mereka tidak memiliki boneka yang dimaksud, malah diantara mereka tampak heran, karena baru kali ini mereka mendengarnya.
Kecemasan tampak padanya , karena kelihatanya, pencarianya kali inipun tidak membawa hasil, ia membayangkan gadis kecilnya gelisah dan tak sabar, menunggu di rumah, menanti kedatanganya sambil membawa boneka kutu yang diinginkanya. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya nanti, bahwa ia belum bisa menemukan dan membelikan boneka kutu yang diinginkanya. Apa yang ada dalam mimpi sering kali berbeda dengan kenyataanya, dan begitulah keadaanya. Boneka kutu itupun tidak pernah ditemukanya.
Jam baru menunjukan pukul 08.00 malam, masih sore untuk sebuah tempat yang sebenarnya cukup ramai itu, tetapi susananya tampak lengan dan sunyi. Ada enam pedukuhan di desa itu, yang masing-masing dukuh terdiri dari tiga puluh sampai empat puluh rumah. Mereka berkelompok dan sebagaian besar dari warga di dukuh-dukuh itu masih ada hubungan persaudaraan diantara mereka Bertani dan bercocok tanam menjadi pekerjaan mereka sehari-hari, masing-masing keluarga yang tinggal di pedukuhan tersebut rata-rata memiliki sawah yang cukup luas. Mereka pergi ke sawah ketika masih sangat pagi dan pulang ke rumah ketika waktu duhur tiba. Dan kembali ke sawah lagi setelah beristirahat, mereka baru kembali kerumah ketika sore hari. Sebagian besar dari masyarakat itu juga memiliki binatang ternak yang sebagian besar adalah kambing. Pilihan ini sangat tepat mengingat ketersediaan pakan kambing begitu melimpah. Rumput dan aneka dedaunan bisa dengan mudah diperoleh oleh warga karena tumbuh dengan baik di desa itu. Kambing adalah binatang piaraan yang sudah turun-temurun di pelihara oleh warga di pedukuhan tersebut. Sebagian dari mereka menjadikan kambing sebagai petunjuk tingkat status sosial seseorang. Semakin banyak kambing piaraaanya maka semakin tinggi status sosial orang tersebut. Kambing-kambing itu dirawat dengan sangat baik, dari masalah pakan, kandang maupun kesehatannya. Mereka juga menjadikan kambing sebagai barang dagangan yang sangat menguntungkan. Bahkan dari usaha jual beli kambing itu kehidupan warga sangat berkecukupan. Malam itu adalah malam ke sepuluh, dimana suasana di keenam pedukuhan itu begitu lengang dan sunyi. Kenyamanan warga benar-benar terganggu setelah matinya seekor kambing milik warga, tepat pada hari jumat kliwon yang lalu. Gino sang pemilik kambing tampak begitu kecewa dan menyesal. Ia menyalahkan diri sendiri atas matinya kambing itu. Jika saja ia bangun ketika kambing itu mengembik sangat keras, mungkin kambing itu bisa terselamatkan. Begitulah yang ada pada pikiran gino Gino adalah orang ke delapan yang kehilangan kambing. Ini menjadi alasan yang kuat bagi warga di keenam pedukuhan tersebut untuk resah. Keresahan semakian menjadi ketika seorang warga menceritakan bahwa ia pernah melihat bayangan seekor kambing yang besar dengan sepasang tangan dan kaki mirip seperti manusia. Cerita ini menyebar dengan cepat ke semua pedukuhan dan bahkan menjadi bahan pembicaraan sehari-hari warga di setiap kesempatan. Kondisi masyarakat yang masih tradisional, mempercayai hal-hal yang irasional semacam itu. Beberapa kasus matinya kambing warga di beberapa pedukuhan ditengarai berkaitan erat dengan munculnya hantu kambing berbadan manusia. Warga dengan sekenanya mengatakan hilangya kambing-kambing itu karena masyarakat tidak pernah melakukan sesaji kepada penguasa pedukuhan tersebut. Warga yang lain berpendapat bahwa hantu kambing itu adalah hantu jadi-jadian, bahkan ada yang mengatakan hantu kambing itu sebenarnya adalah orang yang sengaja ingin membuat kekacauan di desa itu. Dan masih banyak spekulasi lainya yang keluar dari mulut warga, sekitar matinya kambing-kambing itu. Kekhawatiran akan semakin banyaknya kambing yang mati telah menimbulkan kecemasan dan ketakutan dikalangan warga. Belum ada usaha yang jelas untuk meredam keresahan masyarakat ini. Para ketua pedukuhan dan para sesepuh wargapun tidak mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Mereka hanya menyarankan supaya warga diminta untuk berjaga diri. Mereka hanya bisa menunggu dan bertanya, kapankah hantu kambing itu akan datang lagi dan kambing siapakah yang akan mati…………….? Kambing-kambing itu menghidupi sekaligus menakuti.
Oleh Aku
Selasa, 09 Maret 2010
KARMA SANG PENDOSA
Bau minuman keras itu masih keluar dari mulutnya. Posisi tubuhnya terkapar, terbujur penuh luka. Darah masih tampak mengalir dari ke dua lubang hidungnya. Giginya berantakan bekas pukulan benda tumpul. Sekujur tubuhnya lebam, dari dada sampai pusarnya. Jelas orang itu telah mengalami penganiaan yang sangat hebat. Tatto menghiasi tubuhnya, aneka gambar dan warna, yang kelihatan dibuat asala-asalan. Gambar bunga mawar di lengan bagian kanan dipadu dengan gambar wanita setengah telanjang, mencolok. Gambar ular naga dengan ekor yang melingkar di dada sebelah kananya, dan beberapa gambar lainya yang sudah tidak jelas lagi karena coba dihapus. Ini kelihatan dengan bekas luka yang tampak pada gambar tatto itu. Orang yang berkerumun tak satupun yang mengenalinya. Mereka bergerombol dan saling berbisik, bertanya, siapakah gerangan orang itu. Kondisi korban yang sangat tidak wajar, tidak menyurutkan niat orang-orang untuk melihatnya. Barisan terdepan yang dekat dengan korban tampak terhuyung-huyung, mendapat desakan dari orang-orang yang baru datang di belakangnya. Semakin lama semakin banyak saja orang yang datang menyaksikan korban itu. Wasri sang pedagang sayur keliling tampak diantara mereka. Sudah hampir satu bulan, peristiwa pencurian terjadi di desa itu, dari pencurian yang kecil-kecil, seperti pencurian sandal, jemuran, binatang piaraan sampai pencurian yang cukup besar seperti yang dua hari lalu terjadi di rumah Haji Amat. Hampir samua isi rumahnya ludes digondol maling. Kondisi yang sangat tidak aman ini membuat masyarakat siaga satu untuk menangkap pelakunya. Hampir setiap malam masyarakat berjaga secara begilir utuk menjaga keamaanan desanya. Ada yang membawa tombak, pedang, parang, berbagai pentungan dan apa saja yang bisa dipakai untuk menghajar, jika sewaktu-waktu maling yang meresahkan itu benar-benar tertangkap. Kelihatan wajah-wajah kelelahan diraut muka orang-orang itu karena begadang setiap malam. Berita tewasnya seorang maling yang dihajar oleh warga akhirnya tersebar juga ke desa tetangga. Wasri yang baru pulang dari pasar mengabarkan peristiwa itu kepada siapa saja yang lewat. Sebagai saksi mata yang langsung melihat korban, Wasri dengan semangat menceritakan semuanya. Dengan gaya khas seorang pedagang, Wastri menceritakan apa yang telah dilihatnya Tampak diantara kerumunan itu adalah Suminah. salah satu orang yang ikut menghambur ke luar untuk mendengarkan cerita dari Wasri. Suminah tampak tergopoh-gopoh sambil berlari-lari kecil bergabung dengan orang-orang yang berkerumunan mengelilingi Wasri. Anak balitanya yang sekali-kali meraung menangis, tidak begitu diperhatikanya. Ia mendesak , ingin tahu sekali apa yang diceritakan Wasri. Wajah Suminah tampak tegang, matanya nanar dan membelalak seperti tidak percaya mendengar cerita Wasri. Jantungnya berdegup kencang ketika mulut wasri mengucapkan satu-persatu ciri-ciri korban. Rambutnya gondrong, ada banyak tattoo di tubuhnya, badanya kurus dan mengeluarkan bau minuman keras dari mulutnya. Suminah memeluk erat balitanya dan segera kembali kerumahnya. Ia titipkan balitanya ke neneknya dan langsung pergi meninggalkan rumahnya menuju ke tempat peristiwa. Di benaknya muncul pertanyaan, apakah suaminya, laki-laki yang tewas dikeroyok oleh massa, seperti yang diceritakan oleh Wasri tadi. Sodron, laki-laki yang tujuh tahun lalu menikahinya, meninggalkanya, dan entah apa yang dilakukanya di luar sana. Kadang sesekali pulang, tapi itu berarti bencana bagi Suminah dan anaknya. Ia beringas dan sangat kasar. Masyarakat di sekitarnya menyebutnya sebagai preman kampung. Mabuk-mabukan, berjudi, meminta uang dengan paksa kepada siapa saja, mengancam siapa saja, mengambil apa saja milik orang lain dan perilaku buruk lainya, telah menimbulkan kebencian yang mendalam dari warga sekitarnya. Bara api ini semakin tersulut seiring terjadinya berbagai pencurian akhir-akhir ini. Warga sepakat, Sodron, sang preman kampung itu harus mempertanggungjawabkan semuanya. Sudah banyak polisi yang datang di tempat kejadian itu, ketika Suminah mencoba menerobos kerumunan. Gerakanya tertahan oleh tangan seorang polisi, yang menghalanginya mendekat. Tapi Suminah terus maju merangsek untuk memenuhi rasa penasaranya. Dan saat itu tiba, Suminah benar-benar berdiri di samping sang korban. Ia mencoba jongkok untuk lebih mengenali korban, sambil menahan tubuhnya dengan kuat dari dorongan orang-orang yang berusaha mengusirnya pergi. Waktu yang sesaat itu cukuplah bagi Suminah untuk memastikan siapakah orang yang terbujur kaku di depanya. Wajahnya kosong, tak ada tetesan air mata di pipinya. Ia diam dan tampak pasrah. Ia tinggalkan kerumunan itu dengan langkah yang gontai dan dengan nafas yang tersedak. Tak tahu pasti, apakah ia menyesali kematian suaminya atau malah mensyukurinya.
Ombak di laut itu cukup besar, airnya keruh, kekuningan-kuningan, bergulung-gulung tak pernah berhenti. Kontras dengan langit di atasnya yang biru bersih dengan sinar mataharinya yang terang. Tidak seperti biasanya, airnya yang bersih, memantulkan sinar matahari sehingga tampak kerlap-kerlip di permukaannya. Sesekali deburan ombak yang kembali ke pantai membawa sampah, apa saja, dan tampak laut yang cantik itu tak begitu dipedulikan.
Cukup banyak orang yang datang di sore itu. Sepasang suami istri kelihatan sibuk membantu melepas baju anaknya.dan membiarkanya ketika si anak berlari menyongsong deburan ombak. Badanya basah kuyub dan dibeberapa bagian tubuhnya menempel banyak pasir. Wajahnya bergairah dan sangat jelas ia menikmati permainanya. Tidak jauh dari tempat itu beberapa kelompok anak muda bermain sepak bola pasir, dengan jumlah pemain seadanya, tiang gawang yang dibuat dari ranting-ranting pohon yang hanyut, tidak mengurangi sedikitpun semangat mereka untuk bergembira. Sore itu, di laut itu, orang-orang yang datang tampak bergembira dengan caranya sendiri-sendiri.
Sudah puluhan tahun tumpukan batu-batu itu ada disitu, kelihatan dirancang untuk memecah ombak dan menahan abrasi di tepi pantainya, mamanjang dari bibir pantai sampai menjorok ke tengah laut, sebagian kropos dan berlubang di sana-sini karena hantaman ombak yang terus menerus. Lumut yang menempel, membuat batu-batuan itu menjadi licin dan menghitam. Serangga-serangga kecil berlarian memanjat dinding batu, ketika ombak menghantamya, jatuhlah ia dan kembali terseret ke tempat semula.
Tidak seperti biasasanya, yang banyak didatangi pemancing, yang bergerombol di atasnya, berpindah dari satu batu ke batu lainya, mencari posisi yang tepat. Sore itu hanya ada beberapa orang yang datang untuk mengadu keberuntunganya. Satu orang di sebelah timur baru saja melempar umpanya, Satu orang di bawah lampu mercusuar, ia menarik joran yang panjangnya hampir empat meter, dan siap memasang mata kailnya. Dan di sebelah barat, di atas batu yang cukup besar, duduk dua orang yang dengan sabar menunggu umpanya di makan ikan.
Kulitnya legam, berkerut merata di sekujur tubuhnya pertanda ia seorang yang menghabiskan waktunya untuk bekerja keras. Topi pemberian dari sebuah toko bangunan dipakainya untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari. Baju panjangnya lusuh dengan warna yang sudah pudar. Sinar matahari terus mamanasi tubuh itu yang diam dan membisu.
Darso menatap tajam, sulit membedakan apakah ia melamun ataukah sedang berkonsentrasi dengan pancingnya. Dahinya berkerut, sesekali ia membetulkan posisi duduknya, bergeser kekanan dan kekiri. Tangan kanannya tetap memegang joran dengan kuat. Saat itu tiba, senar pancingnya tampak bergetar, Darso terhenyak. Ia dengan buru-buru berdiri dari duduknya, mengambil posisi terbaik untuk menarik joranya. Sueb yang duduk di sebelahnya tidak kalah girangnya, langsung menyemangti ……Ayo So …tarik yang kuat…..ayo….cepat. Darso dengan sigap menarik rol senarnya, raut mukanya tampak ceria, harapanya untuk mendapatkan ikan akan terwujud. Darso dengan sekuat tenaga menarik joran ditangannya, senar pancingnya berkelak-kelok pertanda ada sesuatu yang menariknya. Keringatnya menetes, bersamaan dengan munculnya benda putih dipermukaan air, semakin dekat semakin jelas, benda itu bukanlah ikan yang diharapkan tapi sebuah sandal bekas. Bibirnya tersenyum getir, wajahnya tampak begitu kecewa. Sueb yang dari tadi berada di sebelahnya tampak tertawa terkekeh-kekeh……
Laut telah menjadi tempat favorit bagi Darso akhir-akhir ini. Sudah satu minggu Darso menghabiskan waktunya di laut itu, Masalah rumah tangganya dengan istrinya, Rumi, benar-benar telah manggangu pukiran Darso. Ia tinggalkan pekerjaaanya sebagai buruh serabutan dan mengalihkan perhatianya ke lautan. Di laut inilah untuk pertama kali mata Darso menatap wajah Rumi, wanita penjaja makanan untuk para pemancing di laut itu. Riasan yang mencolok, dengan gincu tebal dibibirnya, sapuan bedak yang tak kalah norak di kedua pipinya, ternyata telah membuat jantung Darso berdegup kencang. Darso jatuh cinta kepada Rumi.
Darso selalu kunjungi lautan itu setelah ia selesai dengan pekerjaanya, hanya untuk melihat sang pujaan hati. Darso tampak royal, apa saja makanan yang ada dibakul Rumi, ia cicipi satu persatu. Ia bayar dan tak pernah meminta uang kembalianya. Rumi tampak senang dengan sikap Darso ini. Senyum Rumipun mengembang, dan hati Darsopun semakin terpanah.
Pesona rumi, sang penjaja makanan tidaklah pudar, sekalipun ia telah memutuskan untuk menjadi istri Darso. Hari-harinya berjalan seperti biasa, tetap berjualan di tepi pantai dengan dandanan khas. Canda, tawa dan sesekali godaan dari para pemancing yang menjadi langgananya terus dilayani Rumi dengan senyumnya. Tampak Rumi sangat mengerti manajemen pemasaran, senyum dan keramahan ketika menjual dagangannya adalah strategi yang paling jitu, sehingga hampir setiap hari dagangan Rumi habis terjual.
Dolah, seorang perangkat desa yang telah menjadi pelanggan setianya, adalah salah satu orang yang tertarik dengan pesona rumi, sekalipun ia tahu jika Rumi telah menjadi milik darso. Kekalahanya dalam memperebutkan Rumi tidak menghentikan perjuanganya untuk tetap mendapatkan simpati dari Rumi. Bagi Dolah, Rumi adalah idaman hati, Wanita yang senantiasa hadir dalam khayalan dan pikiranya. Wanita yang memberikan pesona yang berbeda. Rumi adalah segalanya.
Aturan dalam bercinta bahwa seseorang telah menjadi milik orang lain atau seseorang akan menjadi milik orang lain tidaklah dikenal dalam pikiran Dolah. Berbagai cara ia lakukan dari rayuan, imimg-imimg materi dan kehidupan yang lebih baik sampai kata-kata menghiba mencoba membuka hati rumi.
Pikiran Rumi terus mengingat kata-kata indah Dolah, rayuan itu terus menusuk, membuat celah, kemudian menganga dan hati Rumipun akhirnya membuka diri bagi kehadiran Dolah. Darso sang suami tidak mampu membaca tanda-tanda ini, ia tak menyadari ada orang lain di hati Rumi. Pertemuan mereka setelah selesai dengan pekerjaan masing-masing, kelihatan hambar tanpa canda tawa, tak ada kehangatan apapun dari ke duanya, seperti awal-awal mereka bertemu. Dan sulit dimengerti ketika mereka mengganti suasanan rumah tangganya dengan saling menyindir dan saling menyakiti. Tak ada upaya apapun yang di lakukan Darso untuk menenangkan susasana itu, ia lebih memilih mengalah dan menghindar dari peperangan itu. Ia hampiri tempat tidurnya, tempat ia menghabiskan hari-hari bersama istrinya.Ia rebahkan badanya coba mengurai masalah rumah tangganya, tetapi ia tak pernah temukan jawabanya. Panah asmara yang Darso tancapkan ke hati Rumi, tampak tidak menghujam, sehingga panah itu rapuh dan lepas dengan sendirinya. Dan kelihatan Rumipun bersiap-siap menerima panah lain di hatinya, ia adalah Dolah.
Kenangan lima tahum lalu itu benar-benar membekas di ingatan dan hati Darso. Tak salah memang jika Darso sulit untuk melupakanya. Persaingan untuk mendapatkan Rumi amatlah ketat. Begitu kerasnya persaingan mendapatkan Rumi, membuat Darso sangat bangga ketika Rumi menjatuhkan pilihan kepadanya.
Mata Darso tetap menatap kosong, kelihatan sembab di kelopak matanya, ada guncangan hebat dalam diamnya. Ia merasakan betapa cepatnya saat-saat indah itu pergi dari kehidupanya. Tampak tak ada satupun yang bisa menyenangkan pikiranya. Laut yang menjadi kenangan indahnya hanya terus bergulung-gulung, kemudian pecah menghantam batu tepat di bawah Darso duduk. Langit biru, yang membentang sepanjang pandangan mata, hanya memancarkan keindahan warnanya seolah tak peduli dengan kegalauan hatinya. Joran pancing yang seminggu ini menemaninya tak juga memberikan kebahagiaan barang seekor ikanpun. Dan teman-teman mancingnya …….apa yang bisa diharapkan dari mereka.
Di laut itu Darso menemukan jodohnya, di laut itu pula ia kehilangan jodohnya